Agama katolik atau umat yang beragama katolik dikota Cimahi provinsi Jawa Barat sudah ada sejak jaman Pemerintahan Hindia Belanda. Mereka terdiri dari tentara Kerajaan Belanda (KL) dan tentara Pemerintah Hindia Belanda (KNIL). 

Pada bulan September 1896 Cimahi dijadikan sebagai pangkalan militer Pemerintah Hindia Belanda, dan pada saat itu terjadi pemindahan tentara secara besar-besaran, mulai dari tentara Kerajaan Belanda dan juga tentara Pemerintah Hindia Belanda untuk di tugaskan di pangkalan militer Cimahi. Dan diantaranya termasuk tentara-tentara yang menganut kepercayaan katolik.

Untuk memenuhi kebutuhan rohani umat katolik yang berasal dari kalangan tentara di layani oleh Pastor Aalmoezenir, sedangkan umat katolik yang bukan dari kalangan tentara di layani oleh Pastor yang berasal dari Cirebon karena sejak tahun 1878 Cirebon menjadi salah satu stasi dari Vikaris Batavia (wilayah pelayanan gereja katolik) yang dipercayakan kepada Pastor Adolphus Philippus Caspar Van Moorsel SJ untuk melayani daerah Priangan dan Tegal.

Sumber : komsoscimahi.blogspot.com
Pada tahun 1906 dimulai usaha pembangunan gedung gereja katolik di Cimahi, yang didirikan diatas sebidang tanah yang di hibahkan oleh pemerintah Hindia Belanda yang lokasinya dipertigaan Baros Weg (Jl. Baros) dan Prins Hendrik Laan (Jl. Jend. Sudirman) dan diberi nama Gereja Santo Ignatius Cimahi. Dana yang diperlukan untuk membangun gedung gereja diperoleh dari Dep. Onderwys en Eridients (Dep. Pendidikan Agama Pemerintah Hindia Belanda) atas prakarsa seorang awam bernama Riviera De Verninas, serta bantuan dari para opsir-opsir bagian Genie/Zeni dan sumbangan dari Kerajaan Belanda.

Baca Juga : Sejarah Berdirinya Gereja St. Ignatius Cimahi

Pada tahun 1942 terjadi Invasi balatentara Jepang ke Indonesia sehingga wilayah Indonesia dikuasai oleh Jepang, termasuk wilayah Bandung dan Cimahi. Pendudukan Jepang mendatangkan kesulitan bagi gereja karena para Pastor dan Suster banyak yang ditawan dan dipenjara, gereja dijadikan sebagai tempat logistik. Sehingga kegiatan peribadatan dilakukan secara sembunyi-sembunyi karena dilarang, termasuk membunyikan lonceng Angelus.

Pastor Bart Leenders dan Pastor Scheerder ditawan dan dipenjara, setelah beberapa kali pindah kamp tawanan akhirnya keduanya ditahan di kamp IV (Sekarang gedung Pusdikhub). Dengan ditawanya para Pastor maka pelayanan umat di seluruh vikariat Bandung dilakukan oleh Pastor H. Reichert, satu-satunya Pastor asing yang tidak ditawan dan dipenjarakan. Pada tanggal 5 April 1943 salah seorang pastor yang ditawan di Cimahi yaitu Pastor A. Van Dijk meninggal dunia.

Pada tahun 1945 Jepang menyerah dan Indonesia memprolakmasikan kemerdekaanya, para pastor dan suster yang ditawan dan dipenjarakan oleh Jepang dibebaskan. Pastor Bart Leenders setelah bebas kembali ke Cimahi, ia dihadapkan pada situasi gedung gereja yang porak poranda dan umat yang tercerai berai. Sekitar bulan Juli 1946 Pastor Bart Leenders dengan bantuan militer Belanda mulai memperbaiki gedung gereja dan pastoran.